7+ Langkah Menyimpulkan Unsur-Unsur Pembangun Teks Cerita Pendek

Teks Cerpen | Pada kesempatan kali ini admin akan membagikan materi seputar langkah-langkah menyimpulkan unsur-unsur pembangun cerita pendek dalam mata pelajaran bahasa Indonesia kelas sembilan. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang langkah-langkah menyimpulkan unsur-unsur pembangun cerita pendek dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

7+ Langkah Menyimpulkan Unsur-Unsur Pembangun Teks Cerita Pendek

Gambar: freepik.com

Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa, dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang.

Sebuah cerita pendek dibangun dari keenam unsur, yaitu tema, amanat, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang (unsur intrinsik).

1. Sudut Pandang (point of view)

Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita.

Sudut pandang terdiri atas:

a. Sebagai orang pertama

Pengarang berperan sebagai orang pertama. Biasanya jika pengarang langsung berperan, menggunakan istilah aku, atau saya. Orang pertama sebagai pelaku utama dan orang pertama sebagai pelaku sampingan atau tambahan.

b. Sebagai orang ketiga

Pengarang orang ketiga yang berperan sebagai pengamat, biasanya pengarang menggunakan istilah ia, dia, atau nama orang. Atau pengarang hanya menceritakan yang terjadi diantara para tokoh dalam ceritanya, orang ketiga yang serba tahu.

2. Penokohan

Penokohan adalah penggambarkan dan pengembangkan karakter tokoh dalam cerita.

Teknik dalam menggambarkan tokoh, yaitu:

a. Analitik

Analitik yaitu karakter tokoh diceritakan secara langsung.

Contoh:

Tiada bandingannya pada zaman itu, bijaksana, arif budiman. Tiada melanggar hadis dan firman, taat kepada Ilahi Rahman .. sekalian larangan tidak berani.

b. Dramatik

Dramatik dikemukakan melalui beberapa cara berikut:

1) Penggambaran fisik dan perilaku tokoh.

Contoh:

Kertawi menelan ludah. Ia merasa ada gelombang pasang naik dan menyebar ke seluruh tubuh pembuluh darahnya. Di bawah cahaya lampu listrik 10 watt. Wajahnya tampak sangat berat dan kecut.

2) Lingkungan kehidupan tokoh.

Contoh:

Rudah tamu sudah demikian rusak, berantakan, lebih dari kalau anak-anaknya mengadakan pesta ajojing pada ulang tahun mereka. Sementara itu Roh dan kedua temannya masih saja ngorok dengan sejahtera.

3) Tata kebahasaan tokoh.

Contoh:

Mereka hanya mengatakan saya lahir subuh, subuh, putri fajar katanya. Tapi, kapan? Saya sendiri mana tahu kapan, kalau orang tua saya tidak tahu? Mereka hanya bilang sesudah Jepang pergi. Kapan Jepang pergi Nyonya? Mestinya Nyonya dan Tuan mengerti. Mungkin Nyonya bisa tahu.

4) Jalan pikiran tokoh

Contoh:

Ia ingin menemui anak gadisnya itu pikirannya, cuma anak gadisnya yang masih mau menyambut dirinya. Dan mungkin ibunya, seorang janda yang renta tubuhnya, masih berlapang dada menerima kepulangannya tanpa ketakutan; ingin ia mendekapnya, mencium bau keringatnya.

5) Penggambaran oleh tokoh lain (dialog)

Contoh:

"Lalu kenapa Kades marah-marah?"

Kang Usin jadi bingung sendiri.

"Kades marah-marah?" Kamsir malah cekikikan." Asal Akang tahu saja, kemarin juga kades marah-marah di camat itu, baru dipindahkan saja sudah macam-macam. Sudah berani banyak tingkah. Lalu kades pergi, komandan saya bilang, pantas saja kades marah, karena camat baru itu sudah berani main mata dengan istri mudanya.

3. Alur

Aur adalah jalan cerita. Alur dalam cerita terbagi menjadi 3, yakni: alur maju, mundur, dan campuran. Di dalam alur terdapat konflik, diantaranya konflik batin, ide, fisik. Alur dalam cerita jika maju dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Pengenalan situasi cerita (exposition)

Dalam bagian ini pengarang memperkenalkan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antartokoh.

b. Pengungkapan peristiwa (complication)

Pengarang menyajikan peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan ataupun kesukaran-kesukaran bagi para tokoh.

c. Menuju pada adanya konflik (rising action)

Terjadi peningkatan perhatian dapat berupa kegembiraan, kehebohan, ataupun keterlibatan yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh.

d. Puncak konflik (turning point)

Puncak permasalahan yang dihadapi tokoh. Ada beberapa konflik dalam cerita, sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya:

  • konflik manusia dengan dirinya sendiri (batin)
  • konflik manusia dengan sesamanya dapat berupa moral, fisik
  • konflik dengan lingkungan, baik lingkungan ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum
  • konflik manusia dengan Tuhan atau keyakinannya (religi)
e. Peleraian

Konflik masalah, satu per satu sudah mulai mereda atau mengendur.

f. Penyelesaian (ending)

Akhir cerita yang berisi penjelasan tentang nasib tokoh setelah mengalami peristiwa puncak. Namun, ada pula cerita yang penyelesainnya diserahkan kepada imaji pembaca. Jadi, akhir ceritanya dibiarkan menggantung, tanpa ada penyelesaian yang jelas.

4. Latar (Setting)

Latar adalah keadaan tempat, waktu, dan budaya yang diungkapkan dalam sebuah cerita. Latar ini tidak harus fakta, bisa juga imajinasi pengarang.

Latar/setting terbagi atas:

  • Tempat
  • Waktu
  • Suasana
  • Budaya

5. Amanat

Amanat adalah ajakan moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karangannya. Amanat disampaikan penulis biasanya secara tersirat.

6. Tema

Tema adalah inti atau ide dasar sebuah cerita. Tema cerpen biasanya menyangkut segala persoalan dalam kehidupan manusia. Biasanya penulis menyampaikan temanya secara tersirat, untuk itu pembaca, diperlukan apresiasi menyeluruh terhadap berbagai unsur karangan bila ingin mengetahui tema sebuah cerpen. Bisa saja temanya dititipkan pada unsur penokohan, alur, atau latar.

7. Gaya Bahasa

Penggunaan gaya bahasa dalam cerita berfungsi untuk menciptakan nada atau suasana persuasif serta merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan interaksi antartokoh. Bahasa yang digunakan bukanlah bahasa baku, melainkan bahasa sehari-hari.

Dalam cerita pengarang dapat bermain kata ataupun struktur bahasa agar bahasa yang disampaikan tidak kaku ataupun monoton sehingga pengarang dapat mengungkapkan perasaan atau imajinasi dengan leluasa.

Contoh simpulan unsur-unsur pembangun teks cerpen dalam kutipan teks adalah sebagai berikut.

Contoh Simpulan -1

Kami terdiam, si terhukum dikeluarkan dari rumah. Tangannya diikat. Orangnya besar, tinggi, berkumis, dan berjangkut tebal. Mulutnya ganas dan matanya berkilat-kilat. Si terhukum dalam cerpen di atas menggambarkan sebagai seorang (bengis)

Contoh Simpulan -2

Bila seseorang bertanya pekerjaan apa yang saya lakukan, maka saya tak mampu menjawabnya. Wajah saya langsung menjadi merah padam dan tergagap-gagap. Saya cemburu terhadap orang yang bisa mengatakan, "Saya tukang batu." Watak tokoh saya dalam penggalan cerita tersebut adalah (pemalu)

Contoh Simpulan -3

Ketika mendengar bunyi harimau mengaum, mereka serentak berhenti bekerja. Wak Katok menghentikan pisaunya sekaligus melepaskan kulit rusa dari badannya dan yang lain duduk atau berdiri kaku. Latar suasana kutipan cerpen tersebut adalah (menegangkan)

Contoh Simpulan -4

Arman dengan seragam oranyenya yang lusuh tetap melaksanakan tugas menyapu dan membersihkan tiap sisi jalan, meskipun siang itu sangat terik dan penuh debu. Sejak tadi ia harus menahan amarah. Para penonton iringan mobil yang membawa piala Adipura, seenaknya membuang sampah. Padahal tempat sampah jelas-jelas terlihat oleh mata mereka. Sangat ironis, menerima piala kebersihan, tetapi masyarakatnya kurang peduli tentang kebersihan. Bukti bahwa Arman berwatak sabar terdapat pada pernyataan (Tokoh Arman sejak tadi menahan amarah)

Contoh Simpulan -5

"Kamu kenapa, Du?" tanya kakek dengan sedih. "Maafkan Badu, Kek, tadi Badu makan mangga yang masih kecil-kecil dan akhirnya Badu sakit perut," kata Badu sambil terisak. "Sudahlah. Du, lain kali tunggulah sampai mangga itu ranum, baru Badu boleh memetiknya. Amanat penggalan cerpen di atas adalah (kita harus menuruti nasihat orang tua)

Contoh Simpulan -6

Ketika tembakan pertama di Gang Jaksa memecah kesunyian pagi. Guru Isa sedang berjalan kaki menuju sekolahnya di Tanah Abang. Selintas masuk dalam pikirannya rasa was-was tentang keselamatan istri dan anaknya. "Ah, fatimah akan hati-hati," pikirnya kemudian, "telah aku suruh dia jangan keluar rumah." Latar penggalan cerita pendek di atas adalah (Gang Jaksa dan Tanah Abang)